Ekonomi Indonesia: Antara Obat Maag, Kedele, Rupiah, Pemerintah, & Indonesia

Ekonomi Indonesia: Antara Obat Maag, Kedele, Rupiah, Pemerintah, & Indonesia

Antara Obat Maag, Kedele, Rupiah, Pemerintah, & Indonesia

Jika fisik kita kurang sehat, perut merasa sakit melilit, apa yang kita bayangkan? Sakit Maag mungkin. Apa yang kita lakukan? Minum obat maag. Jika masih sakit, apa yang dilakukan? Terus minum obat maag hingga sembuh. Dan akhirnya kita sembuh. Suatu saat kita sakit perut lagi, apa yang kita lakukan? Tentu minum obat maag lagi bukan? Karena terbukti obat maag dapat menyelesaikan masalah yang kita alami. Setuju? Hal ini dilakukan bertahun – tahun ketika kita mengalami sakit perut. Jadi, masalahnya adalah: Sakit Perut. Solusinya adalah: Obat maag.

Namun, sakit perut itu sebenarnya masalah atau gejala? Masalah adalah akar penyebab terjadinya sakit / tidak sehat. Gejala adalah efek yang timbul akibat badan kita tidak sehat. Apa jadinya jika sakit perut itu hanya gejala, sedangkan masalah utamanya adalah munculnya bibit kanker di dalam usus kita (misalnya, amit – amit ya)? Tanpa disadari, sudah berapa lama kita abaikan masalah yang kita salah kira itu?

Mengapa orang memilih minum obat maag dan tidak memilih untuk pergi ke dokter? Alasannya: Cepat, murah, dan mudahJ Keputuhan hanya didasarkan kepraktisan bukan? Sekarang jaman instan Bung!

Analogi inilah yang terjadi di dalam perekonomian Indonesia. Contoh: Kedelai. Siapa yang tidak tahu bahwa kedelai adalah bahan baku makanan rakyat kita? Tempe. Semua suka tempe bukan? Tetapi mengapa harga tempe naik alasannya karena impor kedelai naik?

Karena Indonesia tidak mampu memproduksi kedelai sebanyak kebutuhan rakyatnya. (Rakyat banyak adalah aset bangsa lho) Kalau tidak salah hanya 40% dari total kebutuhan kedelai yang dapat dipasok oleh petani lokal. Sisanya dipenuhi dengan impor kedelai. Persamaan dari sakit perut di atas adalah:

  1. Impor kedelai = solusi = minum obat
  2. Pasokan petani lokal kurang= gejala = sakit perut

Apa masalah dari kedelai ini? Apakah lahan pertanian kurang digarap serius? Yang jadi petani sedikit? Rugi menjadi petani kedele? Lahan dijual & dipakai untuk industri?

Masalah kedele dan masalah sakit perut contoh di atas memiliki kesamaan bukan? Yakni untuk memperbaiki masalah butuh biaya lebih besar & mahal, waktu lebih banyak tersita, dan repot. Tidak instan:)

Kedelai hanya 1 dari sekian banyak masalah. Beras, Buah, Minyak, dll. Inilah yang menjadi permasalahan dalam Ekonomi Indonesia, dimana budaya instan menjamur. Kebutuhan vital jangka panjang diambil menggunakan solusi instan.

Salahkah kebijakan Instan? TIDAK. Kita tetap butuh kebijakan jangka pendek, menengah, dan panjang. Karena ketika ada masalah kita perlu menanganinya dengan segera. Tetapi sejalan dengan itu, harus ada kegiatan paralel antara solusi jangka pendek dan jangka panjang.

  1. Minum obat dulu, jika sakit berlanjut hubungi dokter bukan?
  2. Impor dulu, kalau diperkirakan pasokan masih tetap kurang dalam jangka panjang, perluas lahan pertanian bukan?
  3. Kota Jakarta terus berkembang, segera bangun perkantoran dulu untuk menampung tenaga kerja (sudah terjadi). Jangan lupa Jakarta akan semakin padat, bangun infrastruktur untuk jangka panjang.

Ketika ada masalah, dibutuhkan tindakan jangka pendek untuk solusinya. Tetapi selalu rencanakan kebijakan jangka panjang agar masalah jangka pendek tadi tidak perlu kembali muncul.

Pemimpin yang mampu mencari solusi seperti ini yang diharapkan dapat membawa Indonesia lebih maju dari kondisi saat ini.

Jika tidak ada perbaikan, apa akibatnya?

  1. Ekspor selalu kalah dari impor
  2. Neraca perdagangan selalu negatif
  3. Nilai Rupiah akan terus melorot
  4. Daya beli masyarakat yang sudah tinggi yang seharusnya menjadi motor penggerak perekonomian malahan tergerus daya belinya oleh inflasi yang tinggi (sami mawon)

Rupiah adalah indikator terbaik melihat foreign out/in flow di Indonesia. Jadi ketika Rupiah kembali menguat dengan konstan, maka akan terlihat optimisme di pasar.

Artikel ini dibuat hanya untuk mengutarakan pemikiran penulis, bukan untuk mempengaruhi opini pembaca. Mohon maaf jika ada hal – hal yang kurang berkenan. Sangat dinantikan pendapat, komentar, dan saran pembaca:)

 

Leave a Reply